Ingat Allah..... ...kunci dari segala kesuksesan yang utama
Untuk menjadi santri yang sukses dunia akhirat (maksudnya didunia enak, semua kebutuhan terpenuhi, kaya raya serta berlimpah harta serta nantinya setelah mati bisa langsung masuk surga) caranya ternyata sangat mudah. diantaranya :
2. bekali diri dengan ilmu yang mantap
3. bekerja dengan sungguh sungguh dan serius sesuai bidangnya
4. memulai usaha sesuai kemampuan dan modal dengan serius dan sungguh-sungguh
5. ibadah dan menjalankan syariat agama dengan benar
Dan Akhlak yang mulia merupakan inti ajaran
syariat yang toleran dan kumpulan ajaran agama yang menjadi tujuan
diutusnya Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Karena
itu jiwa ini harus dikondisikan dengan akhlak tersebut sehingga
mendapatkan kebahagiaan dan patuh terhadap perintah Allâh Ta'ala.
Sesungguhnya tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dan membersihkannya dari setiap kotoran, juga meningkatkan pada akhlak yang mulia. Karena tazkiyatun nufus merupakan landasan dalam memulai sebuah kehidupan yang islami sesuai dengan manhaj para nabi.
Oleh karena itu Allâh Ta'ala telah
menentukan media untuk membersihkan jiwa. Dan Rasulullah telah
menjelaskan media tersebut agar dapat sampai ke tujuannya. Tazkiyatun
nufus sama sekali tidak memiliki cara yang khusus selain ajaran Islam
itu sendiri. Hal itu dapat diterangkan lebih jelas lagi dengan 3 kaidah
mulia, yaitu:
Kaidah pertama :
Meneliti seluruh syariat agama secara menyeluruh.
Ketika kita meneliti syariat agama secara menyeluruh lalu menghubungkan dengan tazkiyatun nufus,
maka kita akan menemukan bahwasanya Islam merupakan kumpulan aqidah dan
hukum yang tujuan akhirnya adalah ketakwaan dan akhlak yang mulia.
Kaidah kedua :
Mengetahui sifat-sifat muttaqin (orang-orang bertakwa) yang sempurna dan mukminin (orang-orang beriman) yang ikhlas.
Sifat sempurna bagi seorang muttaqin
yang ahli dalam ibadah adalah keimanan yang mempunyai daya positif dan
dinamis, persatuan yang tegak berdiri di atas dasar ketakwaan dan ibadah
kepada Allâh Ta'ala, sehingga dapat mencetak satu umat yang berakhlak
mulia. Jiwa yang mukmin mempunyai sifat yang ridha terhadap Islam
sebagai agama dan manhaj kehidupan.
Kaidah ketiga:
Mengetahui siapakah wali (kekasih Allah) itu?
Wali-wali Allah adalah orang-orang
mukmin yang bertakwa. Makna dari takwa adalah melaksanakan semua
perintah Allâh Ta'ala dan menjauhi larangan-Nya. Dengan takwa seseorang
dapat mencapai akhlak yang mulia. Dengan mengetahui orang-orang mukmin
yang menjadi wali Allâh, kita bisa
menjadikan orang-orang mukmin tersebut sebagai panutan dalam berakhlak.
menjadikan orang-orang mukmin tersebut sebagai panutan dalam berakhlak.
Sesungguhnya antara akhlak dengan aqidah
terdapat hubungan yang sangat kuat sekali. Karena akhlak yang baik itu
sebagai bukti dari keimanan, dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas
lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang muslim berarti semakin
kuat imannya. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang bagus akhlaknya
dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.”
(HR.Tirmidzi)
dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.”
(HR.Tirmidzi)
Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allâh Ta'ala, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Sesungguhnya seseorang mukmin itu akan mendapatkan derajat orang berpuasa
dan orang yang menegakkan shalat malam dikarenakan kebaikan akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud)
dan orang yang menegakkan shalat malam dikarenakan kebaikan akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud)
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allâh Ta'ala berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau (Rasûlullâh) berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qolam: 4)
(QS. Al-Qolam: 4)
Begitu pula para sahabat, mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya setelah Rasûlullâh. Dan di antara akhlak Shalafus Shalih yaitu:
- Ikhlas dalam berilmu serta takut dari riya’.
- Jujur dalam segala hal.
- Sungguh-sungguh dalam menjalankan amanah.
- Menjunjung tinggi hak-hak Allâh dan Rasul-Nya.
- Lembut hatinya.
- Banyak berdzikir kepada Allâh Ta'ala.
- Tawadhu’ (rendah hati).
- Banyak bertaubat.
- Pemalu.
- Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka menggunjing.
- Banyak memaafkan dan sabar.
- Banyak bersedekah.
"Gabungan antara 2 sumber" :
pencet disini dan tekan disini